Linda Pratiwi ^__^
HALAMAN PENGESAHAN
Judul
: Laporan
Praktek Lapangan Teknologi Penangkapan Ikan
Kelompok : 1 (Satu)
Program Studi : Pemanfaatan
Sumberdaya Perikanan
Fakultas : Perikanan
Dan Ilmu Kelautan
Mengetahui dan Menyetujui,
Dosen Koordinator Praktikum
Fajriyah, S.pi
NIDN. 0903028303
KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena
atas limpahan Rahmat, Hiidayah serta Karunia-Nya sehingga penyusunan Laporan
Praktek Lapangan Teknologi Penangkapan Ikan dapat di selesaikan pada
waktunya.
Dengan terselesaikannya penyusunan Laporan Praktek Lapangan ini, penulis tidak lupa
mengucapkan terima kasih kepada Dosen Teknologi Penangkapan Ikan, yang telah membimbing
jalannya praktikum sehingga berjalan dengan lancar.
Penulis menyadari sepenuhnya
bahwa Laporan Praktek Lapangan ini masih jauh dari
kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis
mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan
penyusunan laporan ini.
Kendari, 14 juli 2014
Penyusun
DAFTAR ISI
HalamanJudul
Halaman Pengesahan............................................................................... i
Kata Pengantar......................................................................................... ii
Daftar Isi.................................................................................................... iii
Daftar Gambar ........................................................................................ iv
BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang............................................................................. 1
B. Tujuan.......................................................................................... 2
C. Manfaat........................................................................................ 2
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
A.
Teknologi
Penangkapan Ikan...................................................... 3
B.
Konstruksi Teknologi Penangkapan Ikan.................................... 6
BAB III. METODE PRAKTEK
A.
Waktu Dan Tempat...................................................................... 14
B.
Alat.............................................................................................. 14
C.
Metode Praktek........................................................................... 14
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Gambaran Umum Lokasi ............................................................ 15
B.
Hasil............................................................................................. 16
C.
Pembahasan................................................................................. 17
BAB V. PENUTUP
A.
Kesimpulan.................................................................................. 24
B.
Saran............................................................................................ 25
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Global
Position System (GPS).................................................. 6
Gambar 2. Fish Finder ............................................................................... 8
Gambar 3. Rumpon Fiber........................................................................... 12
Gambar 4. Radio Komunikasi
................................................................... 13
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Dalam rangka mewujudkan perikanan
tangkap yang berkelanjutan (sustainable
fisheries cupture) sesuai dengan ketentuan pelaksanaan perikanan yang
bertanggung jawab (FAO Code of conduct
for Responsible Fisheries/CCRF) maka eksploitasi sumberdaya hayati laut
harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (Responsible fisheries). Data
dari SOFIA (The State of World Fisheries
and Aquaculture) menyatakan bahwa 5 % dari perikanan dunia dalam status
deplesi atau penurunan produksi secara terus menerus, 16 % telah dieksploitasi
secara berlebihan dan melampaui batas optimim produksi, 52 % telah penuh
eksploitasi, 23 % pada tahap moderat yang artinya produksinya masih dapat
ditingkatkan meskipun dalam jumlah yang kecil, 3 % sumberdaya ikan masih
dibawah tingkat eksploitasi optimumnya dan hanya 1 % yang dalam proses
pemulihan melalui program-program konservasi.
Berdasarkan tersebut di atas, untuk
menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu dikaji penggunaan alat-alat
penangkapan ikan yang ramah lingkungan dari segi pengoperasian alat penangkapan
ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana untuk
perikanan yang bertanggungjawab atau Code
of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF). Juga perlu adanya standarisasi alat
tangkap. Kedepan, trend pengembangan teknologi penangkapan ikan ditekankan pada
teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan (environmental friendly fishing tecnology) dengan harapan dapat
memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan. Teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan
adalah suatu alat tangkap yang tidak
memberikan dampa negatif terhadap lingkungan, yaitu sejauh mana alat
tangkap tersebut tidak merusak dasar perairan, tidak berdampak negatif terhadap
biodiversity, target resources dan non target resources.
B.
Tujuan Praktek
Tujuan dari
praktek lapangan yang dilaksanakan di PPS (Pelabuhan Perikanan Samudera)
Kendari yaitu untuk mengidentifikasi teknologi-teknologi yang berkembang dialat
tangkap purse seine dalam proses penangkapan ikan.
C.
Manfaat
Praktek
Manfaat yang diperoleh mahasiswa dalam
praktek lapangan ini yaitu :
1.
Mahsiswa dapat mengetahui teknologi yang terdapat pada
alat tangkap Purse Seine di lokasi
praktek dalam hal ini Purse Seine 99
GT.
2.
Mahasiswa dapat mengetahui teknologi pada kapal Purse Seine di masa sekarang.
3.
Mahasiswa dapat mengetahui manfaat penggunaan teknologi
pada alat tangkap Purse Seine.
BAB II
TINJAUAN
PUSTAKA
A.
Teknologi Penangkapan Ikan
1.
Definisi Teknologi Penangkapan Ikan
Tekhnik baik baik cara dan alat yang di gunakan
manusia berdasarkan ilmu pengetahuan untuk mencapai tujuan pemanfaatan seluruh organism
air karena memiliki nilai ekonomi.
Menurut Ayodhyoa, 1981 tekhnologi penangkapan ikan
ialah tekhnik atau cara-cara mempergunakan alat penangkapan ikan karena dengan
peralatan dan tekhnik penangkapan yang tepat akan dapat menangkap ikan dengan
hasil yang baik
2.
Prosfektif
Alat Tangkap Purse Seine (Pukat
Cincin)
Pentingnya pukat cincin dalam rangka
usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan, untuk pukat cincin besar daerah
penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan
penangkapan mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan
lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang. Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”. Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik kecil
(kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain).
3.
Bahan
dan Bagian-Bagian Utama Alat Tangkap Purse Seine (Pukat cincin)
Nasution
(1995), mengatakan bahwa bagian-bagian utama dari purse seine adalah sebagai
berikut :
·
Ukuran mata jaring pada
tiap-tiap bagian purse seine berbeda-beda, dan ada pula yang sama. Bagian yang
mempunyai ukuran yang sama terdapat pada bagian sayap dengan ukuran mata jaring
yang besar. Sementara itu pada
bagian kantong ukuran matanya kecil, karena pada bagian ini merupakan tempat
berkumpulnya ikan yang tertangkap sebelum ikan diangkat ke permukaan.
·
Ukuran benang yang
digunakan adalah kebalikan dari mata jaring. Semakin kecil ukuran mata jaring
maka ukuran benangnya semakin besar, begitu sebaliknya.
·
Selvedge
Pada tali ris atas maupun tali ris bawah, selvedge merupakan mata jaring penguat yang dipasang untuk melindungi bagian pinggir dari jaring utama agar tidak mudah robek pada saat operasi penangkapan berlangsung. Pada umumnya ukuran mata jaring pada selvedge dua kali lebih besar dibandingkan pada jaring utama. Sedangkan untuk ukuran mata benangnya tiga sampai empat kali lebih besar dari ukuran mata jaring utama. Bahan yang digunakan adalah Poly Ethylene (PE) atau nylon (PA).
Pada tali ris atas maupun tali ris bawah, selvedge merupakan mata jaring penguat yang dipasang untuk melindungi bagian pinggir dari jaring utama agar tidak mudah robek pada saat operasi penangkapan berlangsung. Pada umumnya ukuran mata jaring pada selvedge dua kali lebih besar dibandingkan pada jaring utama. Sedangkan untuk ukuran mata benangnya tiga sampai empat kali lebih besar dari ukuran mata jaring utama. Bahan yang digunakan adalah Poly Ethylene (PE) atau nylon (PA).
·
Tali Ris
Tali
ris terdiri dari ris atas dan ris bawah. Tali ris atas untuk pelampung dan tali
ris bawah untuk pemberat. Tali ris atas maupun
bawah menggunakan tali yang arah pintalnya berlawanan yaitu pintalan kiri dan
pintalan kanan. Hal ini gunanya untuk
mencegah agar jaring tidak mudah terbelit atau melintir.
Ø Pelampung
Pelampung
berguna untuk memberi daya apung pada alat tangkap agar alat tangkap tersebut
dapat berdiri tegak waktu dioperasikan di dalam air. Pelampung
terbuat dari bahan sintetis yang mempunyai berat jenis lebih kecil dari berat
jenis air laut. Pelampung dipasang
dengan menggunakan tali yang bahan maupun ukurannya disesuaikan dengan tali
risnya.
Ø Pemberat
Pemberat
berguna untuk memberikan daya tenggelam pada alat tangkap dan agar jaring dapat
terbentang sempurna. Pemberat dipasang dengan
mengguanakan tali pemberat. Pemberat ini dibuat
dari bahan yang tidak mudah berkarat, murah dan bahannya mudah didapat,
misalnya timah hitam.
Ø Cincin
Cincin
terbuat dari kuningan atau besi yang anti karat. Alat
ini berguna untuk jalanya tali kolor waktu ditarik sehingga jaring membentuk
kantong. Untuk
memasang ring diperlukan tali ring. Tali ring adalah tali penghubung antara
cincin dengan tali ris bawah. Tali ring terbuat dari
bahan yang sama dengan tali ris atas dan tali ris bawah.
Ø Tali
Kerut / Tali Kolor
Tali
kerut/tali kolor untuk menutup bagian bawah jaring pada waktu dioperasikan
digunakan tali kerut/ tali kolor untuk dilewatkan pada lobang cincin. Dengan
ditariknya tali kerut ini maka ring akan berkumpul sehingga akan membentuk
sebuah kantong. Bahan tali kerut
biasanya dipilih tali yang permukaannya licin, kaku dan tinggi kekuatannya.
B.
Konstruksi Teknologi Penangkapan Ikan
Ø
Konstruksi Umum
·
Global
Positioning System (GPS)
Istilah Global
Positioning System(GPS) menurut Wikipedia dijelaskan sebagai :
a.
Suatu sistem radio
navigasi untuk menunjukkan posisi, yang berdasarkan gelombang radio di angkasa
dan sistem perjalanan waktu yang berbasis satelit. Sistem
ini tersusun atas 24 satelit beserta stasiun buminya.”.
b.
Global Positioning
System(GPS) memberikan informasi yaitu berupa
posisi, kecepatan dan waktu yang akurat pada berbagai peralatan baik di darat,
laut, udara dalam 24 jam pada kondisi cuaca apapun secara gratis. Global
Positioning System secara resmi dikenal sebagai NAVSTAR
(Navigation Satellite Timing And Range) yang awalnya dikembangkan untuk
militer. Pada
dasarnya GPS terdiri dari tiga bagian utama (segment) yaitu: segmen
angkasa (space segment) yang terdiri dari satelit-satelit GPS, segmen
control (control segment) yang terdiri dari stasiun-stasiun pemonitor
dan pengontrol satelit, dan segmen pengguna (user segment) yang terdiri
dari pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah signal dan data.
Tombol-tombol
yang penting terdiri dari 8 tombol utama yaitu:
·
POWER untuk menghidupkan dan mematikan
GPS.
·
PAGE untuk menampilkan menu GPS.
·
MARK untuk menandai koordinat dari
posisi yang diinginkan.
·
GOTO untuk menuju ke titik titik yang
sudah kita tandai/ waypoint yang diinginkan.
·
ENTER untuk konfirmasi pemasukan data.
QUIT untuk kembali ke menu sebelumnya. IN dan OUT untuk menaikkan/menurunkan
skala peta.
·
ROCKER untuk memilih menu, posisi clan
memasukkan data.
·
GPS mempunyai lima halaman informasi
utama. Untuk menuju ke halaman yang diinginkan, kita menekan tombol PAGE
dan/atau QUIT.
Gambar 1. Global Positioning System (GPS)
·
Fish Finder
Atau Echosounder
Alat
bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk
mendeteksi kedalaman perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah
vertikal. Untuk tujuan perikanan
sensitifitasnya ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan dibawah
permukaan air.
Gambar 2. Fish Finder
·
Rumpon Fiber
Jungjunan
(2010), rumpon adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang
dipasang di laut, baik laut dangkal maupun laut dalam. Pemasangan
tersebut bertujuan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar
rumpon, sehingga ikan mudah ditangkap. Melalui pemasangan rumpon, kegiatan
penangkapan ikan akan menjadi lebih efektif dan efisien karena tidak perlu lagi
berburu ikan atau dengan mengikuti ruayanya), tetapi cukup melakukan kegiatan
penangkapan ikan disekitar rumpon tersebut.
Bagian-bagian umum dari rumpon, yaitu sebagai berikut :
1.
Ponton
(pelampung)
Ponton
berbentuk tabung dengan ujung runcing berukuran panjang 240 cm diameter 76 cm
dan panjang bagian yang runcing 30 cm. Bahan dari plat besi
tebal 30 m yang dilengkapi oleh 5 buah kupingan bahan betoneser dan tempat
tiang tanda dari bambu kecil. Dilengkapi juga anti
karat (zinc anoda). Dibagian tengah ada
tempat gantungan tali utama dan atraktor. Ponton dicat dengan
meni AC (anti corrotion) bagian dalam tabung biasanya diisi Styrofoam atau
diisi drum plastik. Juga dilengkapi dengan
tempat gantungan tali utama dan atraktor dari bahan ring ban ditengah sebanyak
4 buah dan dibelakang sebanyak 2 buah. Ponton berfungsi
sebagai sarana apung dari bagian-bagian rumpon yang ada dibawahnya dan
berbentuk torpedo berfungsi untuk memperkecil pengaruh arus laut yang
menghantam rumpon.
2.
Tali
penghubung ponton dan stabilizer
Tali
penghubung ponton dan stabilizer terbuat dari wire rope atau tali kawat baja berukuran diameter 14 mm berfungsi
untuk menegakkan posisi atraktor utama di dalam air dan berfungsi sebagai
faktor pengaman agar tidak mudah diputus oleh orang yang tidak bertanggung
jawab.
3.
Atraktor
utama
Atraktor utama
adalah bagian yang berada di bawah ponton merupakan rangkain ban-ban mobil
(bekas) sepanjang 15 m dengan jarak antar ban 3 m dihubungkan oleh tali PE
sebanyak 4 potong dilengkapi dengan rumbai-rumbai dari tali raffia sepanjang 2
m dan rumbai-rumbai daun kelapa. Fungsi atraktor adalah
untuk menarik perhatian ikan-ikan kecil dan besar agar berkumpul di sekitar
rumpon tersebut.
4.
Stabilizer
Stabilizer
terbuat dari semen cor dengan berat 25 kg berfungsi untuk selalu menegakkan
posisi atraktor di dalam air karena adanya berat dari stabilizer tersebut dan
untuk flexible joint (karena pada ujung-ujungnya terdapat ring ban) akibat
pengaruh hentakan gelombang terhadap ponton di tengah laut. Dengan
adanya stabilizer ini diharapkan posisi atraktor selalu tegak lurus terhadap
ponton walauppun
ada pengaruh arus sehingga atraktor tersebut akan mudah dilihat oleh ikan dari
jarak jauh.
5.
Atraktor
tambahan
Atraktor tambahan adalah atraktor yang diletakkan
dibagian belakang ponton terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumbai tali
raffia sepanjang 15 m dengan menggunakan tali PE diameter 14 mm. Atraktor tambahan ini berfungsi sebagai
atraktor yang mudah diganti-ganti dengan yang baru sehingga rumpon tersebut
selalu terawat atraktornya.
6.
Tali
utama
Tali utama
adalah tali yang menghubungkan antara ponton yang berada di permukaan dengan pemberat
yang ada di dasar laut. Panjang tali
utama adalah minimal 1,5 kali kedalaman laut, disarankan ukuran ini lebih
panjang karena di Jawa Timur rumpon dimanfaatkan juga oleh nelayan untuk
mengikat kapalnya pada saat malam hari karena mereka menginap di tengah laut,
yang mana tidak memungkinkan utnuk drifting. Rata-rata
kapal yang mengikatkan diri ke rumpon paling sedikit 10 kapal. Ukuran
tali utama biasanya diameter 24 mm dari bahan polypropylene. Dipilihnya bahan
ini karena mempunyai ketahanan dan kekuatan yang lebih bagus dibandingkan
dengan tali PE dan tali jenis lokal lainnya yang biasa digunakan oleh
rumpon-rumpon tipe lain. Antara tali disambung
dengan cara splashing dan diberi pemberat dari semen cor 2-3 kg tiap sambungan.
Hal ini bertujuan untuk menghindari tali-tali tersebut mengapung ataupun
melayang pada saat arus mati sehingga menghindari untuk dipotong atau diambil
oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
7.
Pemberat
antar sambungan tali
Pemberat antar
sambungan tali dibuat dengan cara pengecoran semen dengan cetakan tabung
plastik yang diberi tali PE berukuran 4 mm sepanjang 1 m pada bagian tengahnya.
8.
Pemberat
utama
Pemberat utama
dibuat dari pengecoran semen yang diberi urat betoneser pada bagian tengahnya
dan diberi tali penggantung yang dilindungi oleh selang. Cetakan
pemberat utama dibuat dari drum oli atau sejenisnya yang dipotong menjadi 4
bagian sehingga cetakan ini dapat digunakan berulang-ulang dan bentuk pemberat
utama adalah tabung pendek yang berfungsing untuk menghindari pengaruh arus
dasar laut karena bentuknya yang bulat dan mudah dipindah-pindahkan dari darat
ke atas kapal saat pemasangan. Biasanya pemberat utama
sebanyak 3 buah yang dirangkai antara satu dengan lainnya dan tali utama
diikatkan pada bagian tengah pemberat.
9.
Jangkar
Jangkar ini
dibuat dari bahan besi bermata empat dengan berat 25 kg sebanyak 2 buah pada
setiap rumpon. Apabila pemasangan
rumpon berada pada titik kemiringan yang ekstrim disarankan jangkar tersebut
lebih dari 2. Jangkar diikatkan pada
pemberat utama kanan dan kiri dari pemberat yang diikat dari tali utama.
Jangkar berfungsi untuk menahan rumpon agar tidak bergerak dari posisi yang
telah ditentukan saat pemasangan akibat adanya pengaruh arus laut. Jangkar
ini sangatlah penting karena pemberat utama tidak berfungsi untuk menahan
rumpon akibat pengaruh arus.
Hal ini
dikarenakan adanya tekanan air laut terhadap benda yang berada di dalamnya
sehingga berat benda tersebut akan berkurang sesuai dengan seberapa dalam benda
tersebut masuk ke dalam air.
Gambar 3. Rumpon Fiber
·
Radio Komunikasi
Radio
komunikasi, peralatan bantu ini dikapal sangat penting agar antar kapal
yang satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar.
Terdapat 3 frekuensi yaitu : VHF (Very
High Frequency), HF (High
Frequency) dan MF (Medium
Frequency). Radio komunikasi ini
walaupun dilengkapi berbagai frekuensi. Tapi yang sering
digunakan dalam pelayaran adalah frekuensi 16.
Gambar 4. Radio Komunikasi
BAB
III
METODE
PRAKTEK
A.
Waktu
Dan Tempat
Praktek ini dilaksanakan pada hari Selasa,
tanggal 01 Juli 2014, pukul 11.30 WITA sampai selesai di Pelabuhan Perikanan
Samudera (PPS) Kendari.
B.
Alat
Alat yang digunakan dalam praktek
lapangan ini yaitu alat tulis dan kamera (Dokumentasi).
C.
Metode Praktek
Metode
atau prosedur yang digunakan dalam mengumpulkan data pada praktek lapangan ini
yaitu sebagai berikut:
1.
Permintaan izin praktek lapangan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
Kendari pada pejabat yang bersangkutan.
2.
Penentuan alat tangkap oleh dosen pembimbing yang dijadikan sampel
praktek.
3.
Melakukan wawancara langsung dengan nelayan dan tinjauan langsung
terhadap objek praktek.
4.
Mencatat sekaligus mendokumentasikan informasi yang diperoleh dari
sumber yang telah dipercayakan.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.
Gambaran Umum Lokasi PPS Kendari
Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari dibangun sejak tahun 1984, yang
diawali dengan pombebasan tanah rakyat kemudian dilanjutkan dengan tahap
konstruksi atas dasar Studi Keleyakan oleh tim Asia Development
Bank bekerja sama dengan direktorat Jendral Perikanan. Sedangkan
operasional PPS Kendari dimulai pada tahun 1990 setelah diresmikan oleh
presiden RI Bapak H.M Soeharto pada tanggal 10 september 1990 sebelum
ditetapkan sebagai Pelabuhan Perikanan Samudera,status kelembagaan adalah Projoct Manajemen Unit (PMU).
Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari terletak di
Kel. Pudai Kec. Abeli, Kota Kendari.
Sulawesi
Tenggara dengan posisi kordinat secara geografis pada 03⁰58’ 48” LS 122⁰
43’ 17” BT.
Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari
sebagai basis utama perikanan Laut di Sulawesi Tenggara khususnya dari kawasan
Timur Indonesia pada umumnya karena daerah tangkapnya (fising ground) adalah
Laut Flores dan Selat Makassar, laut Banda, Laut Arafura.dan Laut Maluku yang
sangat potensial dengan beragam jenis ikan baik pelagis maupun demersal. Disamping
itu tuga sangat potensial denga Mollusca seperti octopuces (gurita) dan sotong yang telah
menjadi salah satu komuditas ekspor hasil perikanan andalan sulawesi tenggara.
B. Hasil
Ø Deskripsi Unit Penangkapan Ikan
Kapal Penangkapan Ikan :
a.
Nama Kapal
: Bintang Mas Sejati
b.
Alat Tangkap : Purse
Seine
c.
Mesin Utama : Mitsubitshi
d.
Mesin Utama : Power
Block
Ø Penggunaan Tekhnologi Pada Unit Penangkapan
a.
Nama Kapal :
Bintang Mas Sejati
b. Alat Tangkap : Purse Seine
c.
Mesin Utama :
Mitsubitshi
d.
Mesin Bantu :
e.
Alat Bantu Lainnya :
·
Global Positioning
System (GPS)
·
Fish Finder Atau Echosounder
·
Rumpon Fiber
·
Radio Komunikasi
Ø Penilaian Teknologi Ramah Lingkungan
a.
Selektifitas
b.
Konsumsi terhadap BBM rendah
c.
Investasi Rendah
d.
By – Cacth
e.
Tidak Merusak Habitat
f.
Legal
g.
Aman Bagi Nelayan
h.
Aman Bagi Species Ynag Di Lindungi
i.
Aman Bagi Keanekaragaman Hayati
j.
Bersifat Menguntungkan
k.
Dapat Diterima Masyarakat
B.
Pembahasan
Praktek
/ penelitian ini dilakukan pada kapal perikanan tangkap Bintang Mas Sejati
dengan GT 99 No. 1035/Fp 1998 No. 94/N,
dengan panjang kapal 20 meter dan lebar 5 meter, dengan kecepatan rata-rata
kapal 3 mil/jam, jumlah ABK 18 orang.
Alat
tangkap yang digunakan yaitu Purse Seine dengan
panjang 300 meter dan tinggi 1000 meter. Alat tangkap ini
memiliki berbagai Teknologi
Penangkapan Ikan yang diperlukan dalam proses
penangkapan ikan, yaitu :
A.
Global
Positioning System (GPS)
Global Positioning
System (GPS),
yaitu alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio
dari beberapa satelit yang mengorbit untuk mengetahui posisi, merekam arah
haluan dan kecepatan kapal.
Kondisi
langit yang cerah dan bebas dari halangan membuat GPS dapat dengan mudah menangkap sinyal yang dikirimkan oleh
satelit. Semakin banyak satelit
yang diterima oleh GPS, maka
akurasi yang diberikan juga akan semakin tinggi,tetapi apabila keadaan cuaca
buruk seperti hujan atau badai maka sinyal akan sulit untuk didapatkan. Cara kerja
GPS secara logik ada 5 langkah:
·
Memakai
perhitungan “triangulation” dari
satelit.
·
Untuk
perhitungan “triangulation”,GPS
mengukur jarak menggunakan travel time sinyal
radio.
·
Untuk
mengukur travel time,GPS memerlukan akurasi waktu yang tinggi.
·
Untuk
perhitungan jarak, kita harus tahu dengan pasti posisi satelit dan ketingian pada
orbitnya.
·
Terakhir
harus menggoreksi delay sinyal waktu
perjalanan di atmosfer sampai
diterima reciever.
diterima reciever.
Karena GPS bekerja mengandalkan satelit, maka
penggunaannya disarankan di tempat terbuka. Penggunaan di dalam ruangan, atau
di tempat yang menghalangi arah satelit (di angkasa), maka GPS tidak akan bekerja secara akurat dan maksimal. Setiap daerah di
atas permukaan bumi ini minimal terjangkau oleh 3-4 satelit.
Manfaat GPS untuk kegiatan penangkapan adalah
kita dapat menentukan daerah penangkapan ikan dengan cara menandai atau
menentukan titik koordinat daerah perairan yang pernah dikunjungi yang dimana
lokasi tersebut memiliki kelimpahan sumberdaya ikannya.
B.
Fish Finder
Alat bantu navigasi
yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk mendeteksi kedalaman
perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah vertikal. Untuk tujuan perikanan sensitifitasnya
ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan dibawah permukaan air.
Kelebihan dan kelemahan
dari penggunaan Fish Finder atau Echosounder adalah sebagai berikut :
·
Kelemahan dari penggunaan echo sounder atau fish finder adalah jika semakin dalam laut, gambar yang dihasilkan
semakin tidak jelas (tidak terlihat lebih spesifik gambar karang, ikan, kapal
karam,dan sebagainya). Contoh ketika echo sounder
digunakan di akuarium yang berisi ikan, gambar yang dihasilkan lebih jelas, hal
ini dipengaruhi oleh laut. Disamping itu mengganggu komunikasi
antar hewan laut contohnya paus dan lumba–lumba.
·
Keuntungan dari penggunaan echo sounder adalah dapat
mengukur kedalaman laut yang disertai dengan pemetaan dasar laut, disamping itu
digunakan nelayan untuk mengetahui gerombolan ikan,serta dapat mengukur suhu
air pada kedalaman tertentu. Penggunaan teknologi ini sangat
membantu dalam pencarian sumber daya ikan yang baru, sehingga akan mempercepat pengambilan keputusan atau
kebijakan, terutama untuk menetapkan daerah penangkapan ikan agar potensi ikan
dapat dipertahankan
Hubungan teknologi pendeteksi ikan (Fish Finder atau Echosounder)
untuk dunia penangkapan adalah penggunaan alat ini sangat membantu dalam dunia
penangkapan karena dengan adanya teknologi pendeteksi ikan maka para nelayan
akan sangat dimudahkan dalam memburu gerombolan ikan ynag menjadi target
penangkapannya dan mengurangi lama trip
penangkapan.
C.
Rumpon Fiber
Rumpon adalah bantu
penangkapan yang dimasukan ke dalam laut, digunakan untuk memikat ikan-ikan
supaya berkumpul, sehingga mudah untuk ditangkap. Jenis
rumpon yang digunakan oleh kapal Bintang Mas Sejati adalah jenis rumpon
tetap yang terbuat dari bahan fiber,
rumpon ini adalah rumpon yang telah mengalami sentuhan teknologi karena bahan
yang digunakan untuk rumpon tersebut telah memakai bahan sintesis bukan dari
bahan tradisional, rumpon ini dipasang
dengan kedalaman 3996 meter.
Peranan
rumpon terhadap kegiatan penangkapan, yaitu dengan melalui pemasangan rumpon, kegiatan penangkapan ikan akan
menjadi lebih efektif dan efisien karena tidak perlu lagi berburu ikan atau
dengan mengikuti ruayanya, tetapi cukup melakukan kegiatan penangkapan ikan
disekitar rumpon tersebut.
D.
Radio Komunikasi
peralatan teknologi ini dikapal sangat penting agar antar kapal
yang satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu
berlayar. Terdapat 3 frekuensi yaitu :
VHF (Very High Frequency), HF (High Frequency) dan MF (Medium
Frequency).
Radio komunikasi ini walaupun dilengkapi berbagai
frekuensi. Tapi yang sering digunakan
dalam pelayaran adalah frekuensi 16.
E. Penilaian
Teknologi Ramah Lingkungan
a.
Selektifitas
Tidak selektif berdasarkan jenis karena semua jenis ikan ikut
tertangkap di purse seine baik ikan
besar maupun ikan kecil dan meski bukan target penangkapan akan ikut
tertangkap.
b.
Konsumsi terhadap BBM
Kapal Bintang Mas Sejati menggunakan BBM tergantung
dari trip, tetapi dari pemaparan
Nahkoda Kapal Bintang Mas Sejati dalam 1 hari hanya melakukan sebanyak satu
kali penangkapan dan konsumsi BBMnya bisa dinyatakan rendah.
c.
Investasi Rendah
Jenis kapal Bintang Mas Sejati bisa dikategorikan
investasi tinggi karena dilihat dari kapasitas kapal 99 GT dan ABK 18 orang
maka kapal ini sangat membutuhkan banyak biaya.
d.
By – Cacth
By – cacth pada alat tangkap purse seine ini sangat tingi karena
semua jenis ikan tertangkap di alat tangkap tersebut, dan memiliki banyak hasil
tangkapan yang bukan tujuan penangkapan.
e.
Tidak Merusak Habitat
Tidak merusak habitat karena alat tangkap purse seine ini tidak merusak habitat
ikan dalam arti lain terumbu karang.
f.
Legal
Legal karena alat tangkap ini memiliki Surat Izin
Penangkapan Ikan (SIPI).
g.
Aman Bagi Nelayan
Aman bagi nelayan karena alat tangkap ini di
operasikan oleh mesin sehingga tenaga manusia sangat kurang digunakan dan
kecelakaan pada saat pengoperasian sangat kecil terjadi.
h.
Aman Bagi Species
Yang Di Lindungi
Aman karena menurut pemaparan dari Nahkoda Kapal
Bintang Mas Sejati jika mereka menemukan species
yang dilindungi tertangkap pada alat tangkap ini maka mereka akan melepaskan
kembali.
i.
Aman Bagi Keanekaragaman Hayati
Aman karena sumberdaya alam tidak terancam
j.
Bersifat Menguntungkan
Bersifat menguntungkan karena dalam satu kali
penangkapan bisa menghasilkan 5 sampai 9 ton ikan.
l.
Dapat Diterima Masyarakat
Dapat diterima masyarakat hal karena alat tangkap ini
memiliki Surat Izin Penangkapan, tidak membahayakan nelayan dan hasil tangkapan
masih segar.
BAB
V
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan dari
penyusunan laporan praktikum mengenai Teknologi Alat Penangkapan Ikan yang
dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS)
Kendari Tanggal 01 Juli 2014, Pukul 11:00 WITA adalah sebagai berikut :
Ø Global
Positioning System
(GPS),
yaitu alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio
dari beberapa satelit yang mengorbit untuk mengetahui posisi, merekam arah
haluan dan kecepatan kapal.
Ø Alat
bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk
mendeteksi kedalaman perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah
vertikal. Untuk tujuan perikanan
sensitifitasnya ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan dibawah
permukaan air.
Ø Rumpon
adalah bantu penangkapan yang dimasukan ke dalam laut, digunakan untuk memikat
ikan-ikan supaya berkumpul, sehingga mudah untuk ditangkap.
Ø Peralatan teknologi ini dikapal sangat penting agar antar kapal
yang satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar.
B.
Saran
Saran kami yaitu untuk praktek berikutnya diharapkan
agar praktikan lebih focus kepada alat tangkap dan teknologi penangkapan yang
akan dibahas pada praktek kedepannya, agar data yang diperoleh lebih terpercaya
kevalidannya.
DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri.
Bogor. 81 hal.
Sudirman &
Malawa, 2004. Teknik Penangkapan Ikan.Jakarta : PT RINEKA CIPTA

Tidak ada komentar:
Posting Komentar