Rabu, 13 Januari 2016

Teknologi Penangkapan Ikan




Linda Pratiwi ^__^

HALAMAN PENGESAHAN
Judul                     : Laporan Praktek Lapangan Teknologi Penangkapan Ikan
Kelompok             : 1 (Satu)
Program  Studi    : Pemanfaatan Sumberdaya Perikanan
Fakultas               : Perikanan Dan Ilmu Kelautan




Mengetahui dan Menyetujui,

Dosen Koordinator Praktikum


Fajriyah, S.pi
NIDN. 0903028303




KATA PENGANTAR
            Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas limpahan Rahmat, Hiidayah serta Karunia-Nya sehingga penyusunan Laporan Praktek Lapangan Teknologi Penangkapan Ikan dapat di selesaikan pada waktunya.
            Dengan terselesaikannya penyusunan Laporan Praktek Lapangan ini, penulis tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Dosen Teknologi Penangkapan Ikan, yang telah membimbing jalannya praktikum sehingga berjalan dengan lancar.
            Penulis menyadari sepenuhnya bahwa Laporan Praktek Lapangan ini masih jauh dari kesempurnaan.  Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penyusunan laporan ini.




Kendari,  14 juli  2014


                                                                                                            Penyusun




DAFTAR ISI

HalamanJudul
Halaman Pengesahan...............................................................................          i
Kata Pengantar.........................................................................................          ii
Daftar Isi....................................................................................................          iii
Daftar Gambar ........................................................................................          iv
BAB I.   PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.............................................................................          1
B.     Tujuan..........................................................................................          2
C.     Manfaat........................................................................................          2
BAB II.  TINJAUAN PUSTAKA
A.    Teknologi  Penangkapan Ikan......................................................          3
B.     Konstruksi Teknologi Penangkapan Ikan....................................          6
BAB III. METODE PRAKTEK
A.    Waktu Dan Tempat......................................................................          14
B.     Alat..............................................................................................          14
C.     Metode Praktek...........................................................................          14
BAB  IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
A.    Gambaran Umum Lokasi ............................................................          15
B.     Hasil.............................................................................................          16
C.     Pembahasan.................................................................................          17
BAB  V. PENUTUP
A.    Kesimpulan..................................................................................          24
B.     Saran............................................................................................          25

DAFTAR PUSTAKA


DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Global Position System (GPS)..................................................          6
Gambar 2. Fish Finder ...............................................................................          8
Gambar 3. Rumpon Fiber...........................................................................          12
Gambar 4. Radio Komunikasi ...................................................................          13
 


BAB I
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Dalam rangka mewujudkan perikanan tangkap yang berkelanjutan (sustainable fisheries cupture) sesuai dengan ketentuan pelaksanaan perikanan yang bertanggung jawab (FAO Code of conduct for Responsible Fisheries/CCRF) maka eksploitasi sumberdaya hayati laut harus dapat dilakukan secara bertanggung jawab (Responsible fisheries).  Data dari SOFIA (The State of World Fisheries and Aquaculture) menyatakan bahwa 5 % dari perikanan dunia dalam status deplesi atau penurunan produksi secara terus menerus, 16 % telah dieksploitasi secara berlebihan dan melampaui batas optimim produksi, 52 % telah penuh eksploitasi, 23 % pada tahap moderat yang artinya produksinya masih dapat ditingkatkan meskipun dalam jumlah yang kecil, 3 % sumberdaya ikan masih dibawah tingkat eksploitasi optimumnya dan hanya 1 % yang dalam proses pemulihan melalui program-program konservasi.
Berdasarkan tersebut di atas, untuk menjaga kelestarian sumberdaya ikan perlu dikaji penggunaan alat-alat penangkapan ikan yang ramah lingkungan dari segi pengoperasian alat penangkapan ikan, daerah penangkapan dan lain sebagainya sesuai dengan tata laksana untuk perikanan yang bertanggungjawab atau Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF).  Juga perlu adanya standarisasi alat tangkap. Kedepan, trend pengembangan teknologi penangkapan ikan ditekankan pada teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan (environmental friendly fishing tecnology) dengan harapan dapat memanfaatkan sumberdaya perikanan secara berkelanjutan.  Teknologi penangkapan ikan ramah lingkungan adalah suatu alat tangkap yang tidak  memberikan dampa negatif terhadap lingkungan, yaitu sejauh mana alat tangkap tersebut tidak merusak dasar perairan, tidak berdampak negatif terhadap biodiversity, target resources dan non target resources.
B.                 Tujuan Praktek
Tujuan dari praktek lapangan yang dilaksanakan di PPS (Pelabuhan Perikanan Samudera) Kendari yaitu untuk mengidentifikasi teknologi-teknologi yang berkembang dialat tangkap purse seine dalam proses penangkapan ikan.
C.                Manfaat Praktek
Manfaat yang diperoleh mahasiswa dalam praktek lapangan ini yaitu :
1.                  Mahsiswa dapat mengetahui teknologi yang terdapat pada alat tangkap Purse Seine di lokasi praktek dalam hal ini Purse Seine 99 GT.
2.                  Mahasiswa dapat mengetahui teknologi pada kapal Purse Seine di masa sekarang.
3.                  Mahasiswa dapat mengetahui manfaat penggunaan teknologi pada alat tangkap Purse Seine.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A.                Teknologi Penangkapan Ikan
1.                  Definisi Teknologi Penangkapan Ikan

Tekhnik baik baik cara dan alat yang di gunakan manusia berdasarkan ilmu pengetahuan untuk mencapai tujuan pemanfaatan seluruh organism air karena memiliki nilai ekonomi.
Menurut Ayodhyoa, 1981 tekhnologi penangkapan ikan ialah tekhnik atau cara-cara mempergunakan alat penangkapan ikan karena dengan peralatan dan tekhnik penangkapan yang tepat akan dapat menangkap ikan dengan hasil yang baik

2.                  Prosfektif Alat Tangkap Purse Seine (Pukat Cincin)
Pentingnya pukat cincin dalam rangka usaha penangkapan sudah tidak perlu diragukan, untuk pukat cincin besar daerah penangkapannya sudah menjangkau tempat-tempat yang jauh yang kadang melakukan penangkapan mulai laut Jawa sampai selat Malaka dalam 1 trip penangkapan lamanya 30-40 hari diperlukan berkisar antara 23-40 orang.  Untuk operasi penangkapannya biasanya menggunakan “rumpon”.  Sasaran penangkapan terutama jenis-jenis ikan pelagik kecil (kembung, layang, selat, bentong, dan lain-lain).

3.                  Bahan dan Bagian-Bagian Utama  Alat Tangkap Purse Seine (Pukat cincin)
Nasution (1995), mengatakan bahwa bagian-bagian utama dari purse seine adalah sebagai berikut :
·                     Ukuran mata jaring pada tiap-tiap bagian purse seine berbeda-beda, dan ada pula yang sama. Bagian yang mempunyai ukuran yang sama terdapat pada bagian sayap dengan ukuran mata jaring yang besar.  Sementara itu pada bagian kantong ukuran matanya kecil, karena pada bagian ini merupakan tempat berkumpulnya ikan yang tertangkap sebelum ikan diangkat ke permukaan.
·                     Ukuran benang yang digunakan adalah kebalikan dari mata jaring. Semakin kecil ukuran mata jaring maka ukuran benangnya semakin besar, begitu sebaliknya.
·                     Selvedge
Pada tali ris atas maupun tali ris bawah, selvedge merupakan mata jaring penguat yang dipasang untuk melindungi bagian pinggir dari jaring utama agar tidak mudah robek pada saat operasi penangkapan berlangsung.  Pada umumnya ukuran mata jaring pada selvedge dua kali lebih besar dibandingkan pada jaring utama.  Sedangkan untuk ukuran mata benangnya tiga sampai empat kali lebih besar dari ukuran mata jaring utama.  Bahan yang digunakan adalah Poly Ethylene (PE) atau nylon (PA).



·                     Tali Ris
Tali ris terdiri dari ris atas dan ris bawah. Tali ris atas untuk pelampung dan tali ris bawah untuk pemberat.  Tali ris atas maupun bawah menggunakan tali yang arah pintalnya berlawanan yaitu pintalan kiri dan pintalan kanan.  Hal ini gunanya untuk mencegah agar jaring tidak mudah terbelit atau melintir.
Ø    Pelampung
Pelampung berguna untuk memberi daya apung pada alat tangkap agar alat tangkap tersebut dapat berdiri tegak waktu dioperasikan di dalam air.  Pelampung terbuat dari bahan sintetis yang mempunyai berat jenis lebih kecil dari berat jenis air laut.  Pelampung dipasang dengan menggunakan tali yang bahan maupun ukurannya disesuaikan dengan tali risnya.
Ø    Pemberat
Pemberat berguna untuk memberikan daya tenggelam pada alat tangkap dan agar jaring dapat terbentang sempurna.  Pemberat dipasang dengan mengguanakan tali pemberat.  Pemberat ini dibuat dari bahan yang tidak mudah berkarat, murah dan bahannya mudah didapat, misalnya timah hitam.
Ø    Cincin
Cincin terbuat dari kuningan atau besi yang anti karat.  Alat ini berguna untuk jalanya tali kolor waktu ditarik sehingga jaring membentuk kantong.  Untuk memasang ring diperlukan tali ring. Tali ring adalah tali penghubung antara cincin dengan tali ris bawah.  Tali ring terbuat dari bahan yang sama dengan tali ris atas dan tali ris bawah.

Ø    Tali Kerut / Tali Kolor
Tali kerut/tali kolor untuk menutup bagian bawah jaring pada waktu dioperasikan digunakan tali kerut/ tali kolor untuk dilewatkan pada lobang cincin.  Dengan ditariknya tali kerut ini maka ring akan berkumpul sehingga akan membentuk sebuah kantong.  Bahan tali kerut biasanya dipilih tali yang permukaannya licin, kaku dan tinggi kekuatannya.

B.                 Konstruksi Teknologi Penangkapan Ikan
Ø    Konstruksi Umum
·                     Global Positioning System (GPS)
Istilah Global Positioning System(GPS) menurut Wikipedia dijelaskan sebagai :
a.                   Suatu sistem radio navigasi untuk menunjukkan posisi, yang berdasarkan gelombang radio di angkasa dan sistem perjalanan waktu yang berbasis satelit.  Sistem ini tersusun atas 24 satelit beserta stasiun buminya.”.
b.                  Global Positioning System(GPS) memberikan informasi yaitu berupa posisi, kecepatan dan waktu yang akurat pada berbagai peralatan baik di darat, laut, udara dalam 24 jam pada kondisi cuaca apapun secara gratis.  Global Positioning System secara resmi dikenal sebagai NAVSTAR (Navigation Satellite Timing And Range) yang awalnya dikembangkan untuk militer.  Pada dasarnya GPS terdiri dari tiga bagian utama (segment) yaitu: segmen angkasa (space segment) yang terdiri dari satelit-satelit GPS, segmen control (control segment) yang terdiri dari stasiun-stasiun pemonitor dan pengontrol satelit, dan segmen pengguna (user segment) yang terdiri dari pemakai GPS termasuk alat-alat penerima dan pengolah signal dan data.
Tombol-tombol yang penting terdiri dari 8 tombol utama yaitu:
·                     POWER untuk menghidupkan dan mematikan GPS.
·                     PAGE untuk menampilkan menu GPS.
·                     MARK untuk menandai koordinat dari posisi yang diinginkan.
·                     GOTO untuk menuju ke titik titik yang sudah kita tandai/ waypoint yang diinginkan.
·                     ENTER untuk konfirmasi pemasukan data. QUIT untuk kembali ke menu sebelumnya. IN dan OUT untuk menaikkan/menurunkan skala peta.
·                     ROCKER untuk memilih menu, posisi clan memasukkan data.
·                     GPS mempunyai lima halaman informasi utama. Untuk menuju ke halaman yang diinginkan, kita menekan tombol PAGE dan/atau QUIT.


Gambar 1. Global Positioning System (GPS)


·                     Fish Finder Atau Echosounder
Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk mendeteksi kedalaman perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah vertikal.  Untuk tujuan perikanan sensitifitasnya ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan dibawah permukaan air.


Gambar 2. Fish Finder


·                     Rumpon Fiber
Jungjunan (2010), rumpon adalah salah satu jenis alat bantu penangkapan ikan yang dipasang di laut, baik laut dangkal maupun laut dalam.  Pemasangan tersebut bertujuan untuk menarik gerombolan ikan agar berkumpul di sekitar rumpon, sehingga ikan mudah ditangkap.  Melalui pemasangan rumpon, kegiatan penangkapan ikan akan menjadi lebih efektif dan efisien karena tidak perlu lagi berburu ikan atau dengan mengikuti ruayanya), tetapi cukup melakukan kegiatan penangkapan ikan disekitar rumpon tersebut.
Bagian-bagian umum dari rumpon, yaitu sebagai berikut :
1.                  Ponton (pelampung)
Ponton berbentuk tabung dengan ujung runcing berukuran panjang 240 cm diameter 76 cm dan panjang bagian yang runcing 30 cm.  Bahan dari plat besi tebal 30 m yang dilengkapi oleh 5 buah kupingan bahan betoneser dan tempat tiang tanda dari bambu kecil.  Dilengkapi juga anti karat (zinc anoda).  Dibagian tengah ada tempat gantungan tali utama dan atraktor.  Ponton dicat dengan meni AC (anti corrotion) bagian dalam tabung biasanya diisi Styrofoam atau diisi drum plastik.  Juga dilengkapi dengan tempat gantungan tali utama dan atraktor dari bahan ring ban ditengah sebanyak 4 buah dan dibelakang sebanyak 2 buah.  Ponton berfungsi sebagai sarana apung dari bagian-bagian rumpon yang ada dibawahnya dan berbentuk torpedo berfungsi untuk memperkecil pengaruh arus laut yang menghantam rumpon.

2.                  Tali penghubung ponton dan stabilizer
Tali penghubung ponton dan stabilizer terbuat dari wire rope atau tali kawat baja berukuran diameter 14 mm berfungsi untuk menegakkan posisi atraktor utama di dalam air dan berfungsi sebagai faktor pengaman agar tidak mudah diputus oleh orang yang tidak bertanggung jawab.

3.                  Atraktor utama
Atraktor utama adalah bagian yang berada di bawah ponton merupakan rangkain ban-ban mobil (bekas) sepanjang 15 m dengan jarak antar ban 3 m dihubungkan oleh tali PE sebanyak 4 potong dilengkapi dengan rumbai-rumbai dari tali raffia sepanjang 2 m dan rumbai-rumbai daun kelapa.  Fungsi atraktor adalah untuk menarik perhatian ikan-ikan kecil dan besar agar berkumpul di sekitar rumpon tersebut.
4.                  Stabilizer
Stabilizer terbuat dari semen cor dengan berat 25 kg berfungsi untuk selalu menegakkan posisi atraktor di dalam air karena adanya berat dari stabilizer tersebut dan untuk flexible joint (karena pada ujung-ujungnya terdapat ring ban) akibat pengaruh hentakan gelombang terhadap ponton di tengah laut.  Dengan adanya stabilizer ini diharapkan posisi atraktor selalu tegak lurus terhadap ponton walauppun ada pengaruh arus sehingga atraktor tersebut akan mudah dilihat oleh ikan dari jarak jauh.
5.                  Atraktor tambahan
Atraktor tambahan adalah atraktor yang diletakkan dibagian belakang ponton terbuat dari rangkaian daun kelapa dan rumbai tali raffia sepanjang 15 m dengan menggunakan tali PE diameter 14 mm.  Atraktor tambahan ini berfungsi sebagai atraktor yang mudah diganti-ganti dengan yang baru sehingga rumpon tersebut selalu terawat atraktornya.
6.                  Tali utama
Tali utama adalah tali yang menghubungkan antara ponton yang berada di permukaan dengan pemberat yang ada di dasar laut.  Panjang  tali utama adalah minimal 1,5 kali kedalaman laut, disarankan ukuran ini lebih panjang karena di Jawa Timur rumpon dimanfaatkan juga oleh nelayan untuk mengikat kapalnya pada saat malam hari karena mereka menginap di tengah laut, yang mana tidak memungkinkan  utnuk drifting.  Rata-rata kapal yang mengikatkan diri ke rumpon paling sedikit 10 kapal.  Ukuran tali utama biasanya diameter 24 mm dari bahan polypropylene. Dipilihnya bahan ini karena mempunyai ketahanan dan kekuatan yang lebih bagus dibandingkan dengan tali PE dan tali jenis lokal lainnya yang biasa digunakan oleh rumpon-rumpon tipe lain.  Antara tali disambung dengan cara splashing dan diberi pemberat dari semen cor 2-3 kg tiap sambungan. Hal ini bertujuan untuk menghindari tali-tali tersebut mengapung ataupun melayang pada saat arus mati sehingga menghindari untuk dipotong atau diambil oleh orang yang tidak bertanggung jawab.
7.                  Pemberat antar sambungan tali
Pemberat antar sambungan tali dibuat dengan cara pengecoran semen dengan cetakan tabung plastik yang diberi tali PE berukuran 4 mm sepanjang 1 m pada bagian tengahnya.
8.                  Pemberat utama
Pemberat utama dibuat dari pengecoran semen yang diberi urat betoneser pada bagian tengahnya dan diberi tali penggantung yang dilindungi oleh selang.  Cetakan pemberat utama dibuat dari drum oli atau sejenisnya yang dipotong menjadi 4 bagian sehingga cetakan ini dapat digunakan berulang-ulang dan bentuk pemberat utama adalah tabung pendek yang berfungsing untuk menghindari pengaruh arus dasar laut karena bentuknya yang bulat dan mudah dipindah-pindahkan dari darat ke atas kapal saat pemasangan.  Biasanya pemberat utama sebanyak 3 buah yang dirangkai antara satu dengan lainnya dan tali utama diikatkan pada bagian tengah pemberat.
9.                  Jangkar
Jangkar ini dibuat dari bahan besi bermata empat dengan berat 25 kg sebanyak 2 buah pada setiap rumpon.   Apabila pemasangan rumpon berada pada titik kemiringan yang ekstrim disarankan jangkar tersebut lebih dari 2.  Jangkar diikatkan pada pemberat utama kanan dan kiri dari pemberat yang diikat dari tali utama. Jangkar berfungsi untuk menahan rumpon agar tidak bergerak dari posisi yang telah ditentukan saat pemasangan akibat adanya pengaruh arus laut.  Jangkar ini sangatlah penting karena pemberat utama tidak berfungsi untuk menahan rumpon akibat pengaruh arus. 
Hal ini dikarenakan adanya tekanan air laut terhadap benda yang berada di dalamnya sehingga berat benda tersebut akan berkurang sesuai dengan seberapa dalam benda tersebut masuk ke dalam air.





Gambar 3. Rumpon Fiber


·                     Radio Komunikasi
Radio komunikasi,  peralatan bantu ini dikapal sangat penting agar antar kapal yang satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar. Terdapat 3 frekuensi yaitu : VHF (Very High Frequency), HF (High Frequency) dan MF (Medium Frequency).  Radio komunikasi ini walaupun dilengkapi berbagai frekuensi.  Tapi yang sering digunakan dalam pelayaran adalah frekuensi 16.

Gambar 4. Radio Komunikasi



BAB III
METODE PRAKTEK
A.                Waktu Dan Tempat
Praktek ini dilaksanakan pada hari Selasa, tanggal 01 Juli 2014, pukul 11.30 WITA sampai selesai di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari.
B.                 Alat
Alat yang digunakan dalam praktek lapangan ini yaitu alat tulis dan kamera (Dokumentasi).
C.                Metode Praktek
Metode atau prosedur yang digunakan dalam mengumpulkan data pada praktek lapangan ini yaitu sebagai berikut:
1.                  Permintaan izin praktek lapangan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari pada pejabat yang bersangkutan.
2.                  Penentuan alat tangkap oleh dosen pembimbing yang dijadikan sampel praktek.
3.                  Melakukan wawancara langsung dengan nelayan dan tinjauan langsung terhadap objek praktek.
4.                  Mencatat sekaligus mendokumentasikan informasi yang diperoleh dari sumber yang telah dipercayakan.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A.                Gambaran Umum Lokasi PPS Kendari
Pelabuhan Perikanan Samudera  Kendari dibangun sejak tahun 1984, yang diawali dengan pombebasan tanah rakyat kemudian dilanjutkan dengan tahap konstruksi atas dasar Studi Keleyakan oleh tim Asia  Development Bank bekerja sama dengan direktorat Jendral Perikanan.  Sedangkan operasional PPS Kendari dimulai pada tahun 1990 setelah diresmikan oleh presiden RI Bapak H.M Soeharto pada tanggal 10 september 1990 sebelum ditetapkan sebagai Pelabuhan Perikanan Samudera,status kelembagaan adalah Projoct Manajemen Unit (PMU). Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari terletak di Kel. Pudai Kec. Abeli, Kota Kendari. Sulawesi Tenggara dengan posisi kordinat secara geografis pada 0358’ 48” LS 122 43’ 17” BT.
Pelabuhan Perikanan Samudera Kendari sebagai basis utama perikanan Laut di Sulawesi Tenggara khususnya dari kawasan Timur Indonesia pada umumnya karena daerah tangkapnya (fising ground) adalah Laut Flores dan Selat Makassar, laut Banda, Laut Arafura.dan Laut Maluku yang sangat potensial dengan beragam jenis ikan baik pelagis maupun demersal.  Disamping itu tuga sangat potensial denga Mollusca seperti octopuces (gurita) dan sotong yang telah menjadi salah satu komuditas ekspor hasil perikanan andalan sulawesi tenggara.
B.        Hasil
Ø    Deskripsi Unit Penangkapan Ikan
Kapal Penangkapan Ikan                :
a.                   Nama Kapal                            : Bintang Mas Sejati
b.                  Alat Tangkap                           : Purse Seine
c.                   Mesin Utama                            : Mitsubitshi
d.                  Mesin Utama                            : Power Block

Ø    Penggunaan Tekhnologi Pada Unit Penangkapan
a.    Nama Kapal                                    : Bintang Mas Sejati
b.   Alat Tangkap                                  : Purse Seine
c.    Mesin Utama                                  : Mitsubitshi
d.   Mesin Bantu                                   :
e.    Alat Bantu Lainnya                        :
·            Global Positioning System (GPS)
·            Fish Finder Atau Echosounder
·            Rumpon Fiber
·            Radio Komunikasi



Ø    Penilaian Teknologi Ramah Lingkungan
a.                   Selektifitas
b.                  Konsumsi terhadap BBM rendah
c.                   Investasi Rendah
d.                  By – Cacth
e.                   Tidak Merusak Habitat
f.                   Legal
g.                  Aman Bagi Nelayan
h.                  Aman Bagi Species Ynag Di Lindungi
i.                    Aman Bagi Keanekaragaman Hayati
j.                    Bersifat Menguntungkan
k.                  Dapat Diterima Masyarakat

B.                 Pembahasan
Praktek / penelitian ini dilakukan pada kapal perikanan tangkap Bintang Mas Sejati dengan GT 99 No. 1035/Fp  1998 No. 94/N, dengan panjang kapal 20 meter dan lebar 5 meter, dengan kecepatan rata-rata kapal 3 mil/jam, jumlah ABK 18 orang.
Alat tangkap yang digunakan yaitu Purse Seine dengan panjang 300 meter dan tinggi 1000 meter.   Alat tangkap ini memiliki berbagai Teknologi Penangkapan Ikan yang diperlukan dalam proses penangkapan ikan, yaitu :

A.                Global Positioning System (GPS)
Global Positioning System (GPS), yaitu alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio dari beberapa satelit yang mengorbit untuk mengetahui posisi, merekam arah haluan dan kecepatan kapal.
Kondisi langit yang cerah dan bebas dari halangan membuat GPS dapat dengan mudah menangkap sinyal yang dikirimkan oleh satelit.  Semakin banyak satelit yang diterima oleh GPS, maka akurasi yang diberikan juga akan semakin tinggi,tetapi apabila keadaan cuaca buruk seperti hujan atau badai maka sinyal akan sulit untuk didapatkan.  Cara kerja GPS secara logik ada 5 langkah:
·                     Memakai perhitungan “triangulation” dari satelit.
·                     Untuk perhitungan “triangulation”,GPS mengukur jarak menggunakan travel time sinyal radio.
·                     Untuk mengukur travel time,GPS memerlukan akurasi waktu yang tinggi.
·                     Untuk perhitungan jarak, kita harus tahu dengan pasti posisi satelit dan ketingian pada orbitnya.
·                     Terakhir harus menggoreksi delay sinyal waktu perjalanan di atmosfer sampai
diterima reciever.
Karena GPS bekerja mengandalkan satelit, maka penggunaannya disarankan di tempat terbuka. Penggunaan di dalam ruangan, atau di tempat yang menghalangi arah satelit (di angkasa), maka GPS tidak akan bekerja secara akurat dan maksimal. Setiap daerah di atas permukaan bumi ini minimal terjangkau oleh 3-4 satelit.
Manfaat GPS untuk kegiatan penangkapan adalah kita dapat menentukan daerah penangkapan ikan dengan cara menandai atau menentukan titik koordinat daerah perairan yang pernah dikunjungi yang dimana lokasi tersebut memiliki kelimpahan sumberdaya ikannya. 

B.                 Fish Finder
Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk mendeteksi kedalaman perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah vertikal.  Untuk tujuan perikanan sensitifitasnya ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan dibawah permukaan air.
Kelebihan dan kelemahan dari penggunaan Fish Finder atau Echosounder adalah sebagai berikut :
·                     Kelemahan dari penggunaan echo sounder atau fish finder adalah jika semakin dalam laut, gambar yang dihasilkan semakin tidak jelas (tidak terlihat lebih spesifik gambar karang, ikan, kapal karam,dan sebagainya).  Contoh ketika echo sounder digunakan di akuarium yang berisi ikan, gambar yang dihasilkan lebih jelas, hal ini dipengaruhi oleh laut.  Disamping itu mengganggu komunikasi antar hewan laut contohnya paus dan lumba–lumba.
·                  Keuntungan dari penggunaan echo sounder adalah dapat mengukur kedalaman laut yang disertai dengan pemetaan dasar laut, disamping itu digunakan nelayan untuk mengetahui gerombolan ikan,serta dapat mengukur suhu air pada kedalaman tertentu.  Penggunaan teknologi ini sangat membantu dalam pencarian sumber daya ikan yang baru, sehingga akan mempercepat pengambilan keputusan atau kebijakan, terutama untuk menetapkan daerah penangkapan ikan agar potensi ikan dapat dipertahankan 
Hubungan teknologi pendeteksi ikan (Fish Finder atau Echosounder) untuk dunia penangkapan adalah penggunaan alat ini sangat membantu dalam dunia penangkapan karena dengan adanya teknologi pendeteksi ikan maka para nelayan akan sangat dimudahkan dalam memburu gerombolan ikan ynag menjadi target penangkapannya dan mengurangi lama trip penangkapan.

C.                Rumpon Fiber
Rumpon adalah bantu penangkapan yang dimasukan ke dalam laut, digunakan untuk memikat ikan-ikan supaya berkumpul, sehingga mudah untuk ditangkap.  Jenis  rumpon yang digunakan oleh kapal Bintang Mas Sejati adalah jenis rumpon tetap yang terbuat dari bahan fiber, rumpon ini adalah rumpon yang telah mengalami sentuhan teknologi karena bahan yang digunakan untuk rumpon tersebut telah memakai bahan sintesis bukan dari bahan tradisional,  rumpon ini dipasang dengan kedalaman 3996 meter.
Peranan rumpon terhadap kegiatan penangkapan, yaitu dengan melalui pemasangan rumpon, kegiatan penangkapan ikan akan menjadi lebih efektif dan efisien karena tidak perlu lagi berburu ikan atau dengan mengikuti ruayanya, tetapi cukup melakukan kegiatan penangkapan ikan disekitar rumpon tersebut.






D.                Radio Komunikasi
peralatan teknologi  ini dikapal sangat penting agar antar kapal yang satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar.  Terdapat 3 frekuensi yaitu : VHF (Very High Frequency), HF (High Frequency) dan MF (Medium Frequency).
Radio komunikasi ini walaupun dilengkapi berbagai frekuensi.  Tapi yang sering digunakan dalam pelayaran adalah frekuensi 16.

E.        Penilaian Teknologi Ramah Lingkungan
a.                   Selektifitas
Tidak selektif  berdasarkan jenis karena semua jenis ikan ikut tertangkap di purse seine baik ikan besar maupun ikan kecil dan meski bukan target penangkapan akan ikut tertangkap.

b.                  Konsumsi terhadap BBM
Kapal Bintang Mas Sejati menggunakan BBM tergantung dari trip, tetapi dari pemaparan Nahkoda Kapal Bintang Mas Sejati dalam 1 hari hanya melakukan sebanyak satu kali penangkapan dan konsumsi BBMnya bisa dinyatakan rendah.





c.                   Investasi Rendah
Jenis kapal Bintang Mas Sejati bisa dikategorikan investasi tinggi karena dilihat dari kapasitas kapal 99 GT dan ABK 18 orang maka kapal ini sangat membutuhkan banyak biaya.
d.                  By – Cacth
By – cacth pada alat tangkap purse seine ini sangat tingi karena semua jenis ikan tertangkap di alat tangkap tersebut, dan memiliki banyak hasil tangkapan yang bukan tujuan penangkapan.

e.                   Tidak Merusak Habitat
Tidak merusak habitat karena alat tangkap purse seine ini tidak merusak habitat ikan dalam arti lain terumbu karang.

f.                   Legal
Legal karena alat tangkap ini memiliki Surat Izin Penangkapan Ikan (SIPI).

g.                  Aman Bagi Nelayan
Aman bagi nelayan karena alat tangkap ini di operasikan oleh mesin sehingga tenaga manusia sangat kurang digunakan dan kecelakaan pada saat pengoperasian sangat kecil terjadi.


h.                  Aman Bagi Species Yang Di Lindungi
Aman karena menurut pemaparan dari Nahkoda Kapal Bintang Mas Sejati jika mereka menemukan species yang dilindungi tertangkap pada alat tangkap ini maka mereka akan melepaskan kembali.
i.                    Aman Bagi Keanekaragaman Hayati
Aman karena sumberdaya alam tidak terancam
j.                    Bersifat Menguntungkan
Bersifat menguntungkan karena dalam satu kali penangkapan bisa menghasilkan 5 sampai 9 ton ikan.

l.                    Dapat Diterima Masyarakat
Dapat diterima masyarakat hal karena alat tangkap ini memiliki Surat Izin Penangkapan, tidak membahayakan nelayan dan hasil tangkapan masih segar.









BAB V
PENUTUP
A.                Kesimpulan
Kesimpulan dari penyusunan laporan praktikum mengenai Teknologi Alat Penangkapan Ikan yang dilakukan di Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Kendari Tanggal 01 Juli 2014, Pukul 11:00 WITA adalah sebagai berikut :
Ø    Global Positioning System (GPS), yaitu alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan penerimaan gelombang radio dari beberapa satelit yang mengorbit untuk mengetahui posisi, merekam arah haluan dan kecepatan kapal.
Ø    Alat bantu navigasi yang bekerja berdasarkan pemancaran gelombang bunyi untuk mendeteksi kedalaman perairan, mendeteksi suatu obyek dalam perairan arah vertikal.  Untuk tujuan perikanan sensitifitasnya ditingkatkan sehingga mampu mendeteksi adanya ikan dibawah permukaan air.
Ø    Rumpon adalah bantu penangkapan yang dimasukan ke dalam laut, digunakan untuk memikat ikan-ikan supaya berkumpul, sehingga mudah untuk ditangkap.
Ø    Peralatan teknologi  ini dikapal sangat penting agar antar kapal yang satu dan kapal yang lainnya dapat bertukar informasi pada waktu berlayar.









B.                 Saran
Saran kami yaitu untuk praktek berikutnya diharapkan agar praktikan lebih focus kepada alat tangkap dan teknologi penangkapan yang akan dibahas pada praktek kedepannya, agar data yang diperoleh lebih terpercaya kevalidannya.


DAFTAR PUSTAKA
Ayodhyoa AU. 1981. Metode Penangkapan Ikan. Yayasan Dewi Sri. Bogor. 81 hal. 
           




Sudirman & Malawa, 2004. Teknik Penangkapan Ikan.Jakarta : PT RINEKA CIPTA

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar